Kementan Apresiasi Tradisi Tudang Sipulung dan Komitmen Wajo di Sektor Pertanian

redaksi
6 Nov 2025 05:39
Headline News 0 88
3 menit membaca

Wajo,๐’๐ฎ๐ฅ๐š๐ฐ๐ž๐ฌ๐ข๐ฉ๐ฅ๐ฎ๐ฌ.๐œ๐จ๐ฆ โ€” Ribuan petani berkumpul di Rice Processing Center (RPC) Anabanua, Kecamatan Maniangpajo, Kamis (6/11/2025). Mereka datang dari berbagai penjuru Kabupaten Wajo untuk menghadiri Tudang Sipulung dan Manre Sipulung, sebuah tradisi Bugis yang kini menjadi simbol kebersamaan petani dan pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan.

Hadir dalam kegiatan itu Bupati Wajo, Andi Rosman, bersama Wakil Bupati dr. Baso Rahmanuddin, serta Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kementerian Pertanian RI, Prof. Dr. Ir. Fadjry Djufry. Sekitar 4.000 petani memadati area acara, membawa semangat gotong royong dan rasa syukur atas hasil panen yang melimpah.

โ€œPara petani adalah pejuang pangan kita. Tanpa mereka, sektor pertanian tidak akan sekuat ini,โ€ ujar Bupati Andi Rosman di hadapan ribuan hadirin. Ia menyebut Tudang Sipulung sebagai bentuk penghormatan terhadap kerja keras para petani yang menjaga keberlanjutan pangan di Wajo.

Menurut Andi Rosman, kegiatan itu bukan sekadar tradisi, tetapi juga momentum untuk menyatukan langkah. โ€œKita harus satu komando dalam memulai musim tanam โ€” dari pengolahan tanah hingga pemilihan bibit. Semua harus dilakukan bersama-sama,โ€ tegasnya.

Bupati juga memastikan, Tudang Sipulung dan Manre Sipulung akan menjadi agenda tahunan Pemerintah Kabupaten Wajo. Ia menilai tradisi tersebut penting untuk memperkuat solidaritas antarpetani, mempererat hubungan pemerintah dan masyarakat, sekaligus menjadi forum terbuka untuk mencari solusi persoalan pertanian.

โ€œInsya Allah, ini akan kita jadikan kalender tahunan. Karena kegiatan seperti ini menumbuhkan kebersamaan dan keharmonisan, serta menjadi ruang dialog antara petani dan pemerintah,โ€ tutur Andi Rosman.

Dukungan terhadap semangat itu datang dari pemerintah pusat. Prof. Fadjry Djufry menyebut Kabupaten Wajo sebagai salah satu ikon pertanian di Sulawesi Selatan yang memiliki kontribusi signifikan secara nasional.

โ€œWajo berada di peringkat ke-11 nasional dalam produksi pertanian, dan di Sulawesi Selatan hanya Kabupaten Bone yang berada di atasnya,โ€ ujar Fadjry.

Ia menegaskan komitmen Kementerian Pertanian untuk memperkuat sektor pertanian Wajo melalui dukungan infrastruktur dan sarana produksi. โ€œKami siap membantu pembangunan jalan usaha tani, penyediaan benih unggul, dan peningkatan indeks pertanaman (IP),โ€ katanya.

Dalam kesempatan itu, Fadjry juga menyoroti kendala pasokan bahan bakar solar yang masih dihadapi petani Wajo. Ia berjanji akan menyampaikan hal itu ke tingkat kementerian untuk segera dicarikan solusi.

โ€œSaya baru tahu bahwa petani Wajo masih kesulitan solar. Ini akan saya laporkan karena menyangkut kebutuhan utama alat dan mesin pertanian. Kementan akan memprioritaskan bantuan untuk Wajo,โ€ tegasnya.

Menutup sambutannya, Fadjry memuji langkah Pemkab Wajo yang menghidupkan kembali nilai-nilai lokal melalui Tudang Sipulung. โ€œKegiatan ini bukan hanya tradisi, tapi juga simbol kearifan lokal yang mempersatukan petani dan pemerintah. Mari terus lestarikan kegiatan seperti ini,โ€ ujarnya.

Siang itu, suasana Anabanua terasa hangat. Di tengah hamparan padi yang mulai menguning, ribuan petani saling bersalaman dan bercengkerama. Tudang Sipulung tak hanya menjadi seremoni adat, melainkan juga perayaan kebersamaan, tempat harapan baru bagi pertanian Wajo disemai kembaliโ€”dari tanah yang subur, oleh tangan-tangan yang tak pernah lelah menjaga kehidupan.(๐Ÿ๐ค๐ซ)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x